Urgensi Kesehatan Bagi Ketahanan Pendidikan Madrasah

Cilacap – Salah satu hal penting yang tidak boleh dikesampingkan dalam dunia pendidikan madrasah adalah kesehatan siswa. Tidak jarang siswa madrasah yang harus belajar siang dan malam sehingga terkadang lupa menjaga kesehatan. Padahal tanpa kesehatan manusia tidak bisa melakukan pekerjaan apapun dengan maksimal.

Sudah menjadi hal yang lazim dan hampir ada di setiap madrasah tsanawiyah maupun aliyah dan bahkah ibtidaiyah. Adalah siswanya ketika siang berada di madrasah sedangkan sore hingga malam hari harus belajar di pesantren. Terlebih bagi madrasah yang berada langsung di komplek pesantren.

Seperti halnya yang terjadi di madrasah tsanawiyah negeri (MTsN) 3 Cilacap. Banyak siswa yang berasal dari kecamatan lain dan tinggal sehari-hari di pesantren. Terkadang manajen pesantren mengharuskan santrinya melakukan ritual tertentu, semisal puasa sunnah maupun shalat sunnah. Sehingga siswa harus diberikan pengertian dan pelayanan pendidikan ekstra. Tujuannya agar siswa dapat belajar dengan seimbang. Yakni antara waktu belajar, kemampuan berfikir, kesehatan dan daya tahan tubuh.   

Kepala MTsN 3 Cilacap, Kusnandar memberikan wejangan kepada dewan gurunya. Hal tersebut setelah terdapat seorang siswa MTsN 3 Cilacap  atas nama Kharis Zakaria, kelas 9f dilarikan ke Puskesmas Kawunganten, pada Jumat (23/2).

Tindakan tersebut dilakukan setelah diberikan pertolongan pertama ternyata dia tak kunjung sadar. Sesampainya di Unit Gawat Darurat (UGD) dia langsung mendapat perawatan petugas.  Dia menderita  sesak nafas pusing, sakit perut, hingga tidak sadarkan diri.

Kusnandar mengatakan, sejak pagi kharis sudah merasa pusing. Dia mengaku sejak malam belum makan. Saat pembelajaran  di kelas hanya diam duduk dikursi. Kemudian sekitar jam 10.30   dia pingsan di kelas. Dia dibawa oleh teman-temannya ke UKS untuk mendapat P3K dari anggota Palang Merah Remaja (PMR). Selain Kharis dalam satu kelas dan dalam waktu bersamaan juga terdapat siswa lain yang pingsan, yakni Lili. Setelah dibawa  ke UKS diberi P3K Lili   sadar dan kondisinya tidak perlu di bawa ke puskesmas.

Setelah mendapat pertolongan dari tim medis  Kharis yang dilarikan ke Puskesmas akhirnya sadar  kemudian makan dan minum. Setelah diberi obat kondisinya semakin membaik  dan dokter memberi  izin untuk dibawa pulang dan diantar ke rumah.

Dari peristiwa tersebut, maka sudah barang tentu kegiatan pendidikannya terganggu. Karenanya, para guru dituntut mampu memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga kesehatan. Berkomunikasi dan berkoordinasi baik dengan orang tua, wali ataupun pengelola pesantren. Tujuannya yakni tercipta kondisi kesehatan siswa yang baik menuju tercapainya visi dan misi pendidikan madrasah. (Muslih/bd)