Menuju Puasa yang Berkualitas

Slamet Untung, S.Ag, M.Pd.I (Guru MTs Negeri 2 Pemalang)

Dalam Al Qur’an pada surat Al Baqarah ayat 183 telah dijelaskan bahwa tujuan utama diperintahkannya puasa adalah terbentuk pribadi muslim yang bertaqwa. Taqwa ini sendiri adalah orang yang melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Ciri-ciri orang yang bertaqwa ini pun telah dijelaskan dalam Al Qur’an pada surat Ali Imran: 134. Salah satunya adalah orang yang mampu menahan amarahnya.

Suatu cara yang paling efektif dan ampuh untuk menahan amarah dan mengendalikan nafsu ialah dengan berpuasa, di samping dengan melakukan zikir, shalat, sedekah dan sebagainya. Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu berarti dapat memenangkan jihad al-akbar (jihad yang lebih besar).

Berpuasa untuk mencapai tujuan taqwa tidaklah dilakukan hanya sekedar menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa saja dari terbit fajar sampai menjelang waktu maghrib seperti makan dan minum. Tetapi puasa yang kita lakukan betul-betul dilakukan dengan sepenuhnya jasmani dan rohani. Artinya puasa kita harus berkualitas.

Puasa yang berkualitas dapat ditempuh dengan upaya menjaga anggota badan dari dosa. Puasa berkualitas menurut Imam Al-Ghazali disebut sebagai shawmul khushush. Puasa berkualitas ini merupakan puasa orang-orang shaleh terdahulu. Puasa berkualitas dapat ditempuh bukan sekadar menahan diri dari rasa lapar dan dahaga saja. Puasa yang berkualitas dapat dicapai dengan menahan diri dari segala larangan-larangan agama.

وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوْصِ وَهُوَ صَوْمُ الصَّالِـحِيْنَ فَهُوَ كَفُّ الْـجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ 

Artinya, “Adapun puasa khusus adalah puasa orang-orang shaleh, yaitu menahan anggota tubuh dari segala dosa,” (Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin).

Rasulullah saw jauh-jauh hari telah mengingatkan agar umat Islam melakukan puasa secara berkualitas. Puasa yang berkualitas dapat melahirkan ganjaran besar dari Allah berupa surga. Sedangkan puasa yang tidak berkualitas hanya melahirkan keletihan berpuasa, yaitu rasa lapar dan dahaga belaka.

 وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْـجُوْعَ وَالْعَطْشَ 

Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, “Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga,” (HR An-Nasai dan Ibnu Majah).

Puasa yang berkualitas merupakan upaya pengendalian atas anggota badan, yaitu telinga, mata, lisan, tangan, kaki, dan anggota badan lainnya. Puasa yang berkualitas merupakan puasa istimewa yang dapat dicapai bukan sekadar menggeser waktu makan dan minum, tetapi juga mengendalikan nafsu atas keinginan anggota badan. 

 وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوْصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ

Artinya, “Adapun puasa khusus adalah mengendalikan pendengaran, penglihatan, ucapan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari dosa,” (Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin).

Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menuju puasa yang berkualitas sesuai dengan Standar Syari’ah Nabi (SSN) :

  1. Ikhlas

Ikhlas adalah pangkal dari setiap amal perbuatan untuk mendapatkan ridha Allah. Agar puasa kita menjadi berkualitas, maka puasa kita harus ikhlas.

Keutamaan puasa Ramadhan berupa ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu hanya diberikan kepada orang yang puasanya dilandasi keikhlasan. Sebagaimana sabda Nabi saw : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”  (Muttafaq ‘Alaih)

Oleh karena itu mari kita tata kembali niat puasa kita hanya untuk Allah dan karena Allah, bukan lainnya. Sehingga puasa kita benar-benar berkualitas.

Agar puasa berkualitas, puasa itu harus sah. Artinya, kita harus meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa, diantaranya:

a. Makan atau minum dengan sengaja. Jika seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, itu tidak membatalkan puasanya. Sebagaimana sabda Nabi saw : “Barangsiapa yang lupa, padahal ia berpuasa, lalu ia makan atau minum, hendaknya ia meneruskan puasanya. Karena ia diberi makan dan minum oleh Allah.” (HR. Jamaah)

b. Muntah dengan sengaja. Sebagaimana sabda Nabi saw : “Barangsiapa didesak muntah, ia tidak wajib mengqadha, tetapi siapa yang menyengaja muntah hendaklah ia mengqadha.”  (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Daruquthni, dan Hakim)

c. Mengeluarkan sperma, baik karena mencium istrinya atau hal lain di luar bersetubuh. Jika bersetubuh ia terkena kafarat, jika karena mimpi maka tidak mempengaruhi puasanya.

Ikhlas serta meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa saja tidak cukup untuk menjadi berkualitas. Hal lain yang perlu kita lakukan adalah meninggalkan hal-hal yang menjadikan puasa sia-sia. Yaitu dengan menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Di antaranya adalah menjaga emosi kita agar tidak marah dan tidak berdusta, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang berpuasa janganlah berkata keji dan mengumpat, jika seseorang mencela atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih)

Sering kita jumpai, ada orang yang berpuasa lalu mengisi siang harinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan alasan agar lupa rasa lapar dan haus selama puasa mereka seharian di depan televisi, banyak main game atau HP dan sebagainya. Hal-hal seperti ini hendaknya ditinggalkan agar puasa kita benar-benar berkualitas. Sebagaimana sabda Nabi saw : “Di antara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Inilah yang disebut puasa khusus oleh Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin dan ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qasidin. Bahwasanya puasa yang berkualitas adalah puasa secara keseluruhan lahir dan batin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sehingga puasa kita benar-benar terasa yakni dengan meninggalkan kebiasaan yang tidak baik atau berlebihan. Seperti anggota tubuh secara lahiriah (mata, lidah, telinga, tangan, dan kaki). Dan pikiran serta hati dari penyakit dengki, iri, marah, kecintaan pada dunia, dan sebagainya. Semuanya ikut berpuasa secara totalitas.

Di saat kita meninggalkan hal yang haram dan tidak bermanfaat, pada saat yang sama kita memperbanyak amal shalih pada saat berpuasa. Seperti memperbanyak tilawah Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, shalat sunnah, tafakur, mengkaji ilmu-ilmu agama, memperbanyak infaq, dan lain sebagainya.

Rasulullah dan para sahabatnya sangat mengerti tentang keutamaan Ramadhan dan bagaimana memperbaiki kualitas puasa mereka. Karenanya dalam kesempatan istimewa ini mereka memperbanyak amal shalih. Ibnu Abbas menuturkan bagaimana peningkatan amal shalih Rasulullah saw, khususnya tadarus dan infaq: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya memuncak pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam untuk tadarus Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan dari pada angin yang bertiup.” (HR. Bukhari)

Demikianlah beberapa langkah yang dapat dilakukan agar puasa kita berkualitas. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga akhirnya mencapai derajat taqwa dan kelak dimasukkan ke dalam surga-Nya. Wallahu A’lam.

Penulis:
Slamet Untung, S.Ag, M.Pd.I (Guru MTs Negeri 2 Pemalang)