Program Tahfidz di MI Muhammadiyah Sigeblog

Banjarnegara – Dalam rangka menggalakkan program menghafal kitab suci Al Qur’an, MI Muhammadiyah Sigeblog menyelenggarakan program kegiatan menghafal Al Qur’an (tahfidz) bagi peserta didiknya, kegiatan bertujuan untuk pembentukan karakter peserta didik sekaligus mengembangkan konsep madrasah berbasis tahfidz al-Qur’an.

Menurut ketua yayasan MI Muhammadiyah Sigeblog, Rakhmat ketika di hubungi, Rabu (6/4) mengatakan target para peserta didik di MI Muhammadiyah Sigeblog, lulus dari madrasah minimal bisa menghafal beberapa juz, dan ternyata setelah di adakan kegiatan tersebut banyak para peserta didik cepat menghafal dan mempunyai hafalan yang bagus.

“Program ini dilatarbelakangi oleh keresahan akan daya saing madrasah yang menurun utamanya di bidang keagamaan, banyaknya kenakalan remaja dan banyaknya para peserta didik yang terbius dengan HP utamanya media sosial, program ini  alhamdulillah di ujicobakan dengan hasil yang lumayan, semoga  bisa dirasakan masyarakat dan kembali membangkitkan animo masyarakat menyekolahkan ke madrasah,” jelas Rakhmat.

Lebih khusus lagi, dasar pencanangan program ini, menurut Rakhmat mulanya sebagai bagian dari pendidikan karakter di sekolah, apalagi saat pandemi covid-19 ini. Di tengah perkembangan zaman yang dipenuhi berbagai tantangan, pendidikan karakter di madrasah.

”Kami ingin madrasah kami memiliki konsep yang jelas terkait pengembangannya. Madrasah lebih baik-lebih baik madrasah, dan madrasah bermartabat  tidak hanya semata slogan saja, kami ingin peserta didik berprestasi akademik anak didik kami dilandasi dengan jiwa Qurani, madrasah lebih berorientasi pada pendidikan moral atau akhlak yang mampu mencetak generasi sholeh – sholehah tanpa meninggalkan ilmu umum,” imbuh Ketua Ranting Muhammadiyah Karangsengon tersebut.

Program tahfidz ini menurutnya, merupakan ikhtiar madrasah dalam menjaga moral generasi sekarang yang telah mengalami penurunan, saat ini banyak di tampilkan di media massa generasi muda yang melakukan perbuatan asusila, begal dan lebih tragis lagi ada yang melakukan perbuatan asusila atau kekerasan yang di lakukan di lembaga pendidikan itu sendiri. (hp/ak/rf)