Latih Kemandirian MAM Limpung Gelar Kegiatan MAPETA

* Setelang pembukaan MAPETA dilanjutkan penyerahan siswa pada para wali asuh di Desa Rejosari Tersono

Batang – MAPETA (Masa Pembekalan Anggota) merupakan rutinitas tahunan yang dilakukan di MAM Limpung. Sebagaimana pada Selasa (10/05) yang lalu bertempat di Gedung Muhammadiyah, Desa Rejosari Kecamatan Tersono berlangsung upacara penyerahan siswa MAM Limpung kepada wali asuh sebagai tanda pembukaan kegiatan Masa Pembekalan Anggota (MAPETA). Acara itu Dihadiri oleh Kepala Desa, Ketua Ranting Muhammadiyah, Kepala Madrasah, Wali Asuh, Dewan Guru,Alumni Aktivis MA Muhammadiyah Limpung (Alivma), panitia, serta siswa siswi kelas XII MIPA dan IPS.

Kepala MAN Limpung Ahyaudin dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihaknya menyerahkan para siswanya pada para wali asuh untuk 7 hari kedepan sebagai layaknya anaknya sendiri untuk memberikan pengetahuan pengalaman pada mereka.

 “Selamat menikmati rindu yang tak berujung hingga 7 hari kedepan anak-anak ku. Saya titipkan kalian semua kepada bapak/ibu wali asuh sekalian, mohon perlakukan siswa siswi kami selayaknya putra putri bapak/ibu kandung sendiri bukan seperti tamu yang singgah sebentar lalu pamit pergi,” tutur Ahyaudin.

Lebih lanjut dia mengatakan jika bapak/ibu wali makan berlaukkan tempe atau ikan asin bahkan hanya kerupuk sekalipun silahkan ajak mereka makan yang sama, tidak perlu di ada-adakan, supaya anak-anak dapat belajar bersyukur dengan apa yang telah mereka miliki.

“ Jadikan anak-anak yang berada di wali asuh ini seperti anggota keluarga lainnya, tidak usah mengada-adakan bila bapak/ibu wali makan berlaukkan tempe, ikan asin ataupun kerupuk silahkan diajak makan sama seperti itu, agar anak-anak dapat belajar bersyukur dengan apa yang mereka miliki,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Desa  Rejosari Barat Widiyono dalam sambutannya mengungkapkan rasa senang dan menyampaikan selamat datang dan semoga anak-anak betah di desanya.

“ Selamat datang anak-anak dari MAM Limpung dikegiatan Mapeta didesa kami, semoga semua betah dan dapat mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru,” kata Widiyono.

Dia berharap agar para siswa dapat mengambil pelacaran meskipun secuil dari kebiasaan masyarakat disini, sehingga akan menjadi pengalaman berharga bagi pribadinya kedepan.

* Peserta MAPETA MAM Limpung sedang mengadakan acara out bone di pantai Batang

“Harapan saya sepulang MAPETA anak-anak dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, bukankah guru yang paling berharga itu pengalaman, jadi silakan pergunakan waktu singkat ini untuk mencari ilmu dari wali asuh kalian dengan sebaik baiknya,” harapnya.

Ketua pelaksana MAPETA Tri Abadi Khair, yang juga merangkap sebagai ketua Alumni Aktivis MA Muhammadiyah Limpung (ALIVMA)  menuturkan bahwa kegiatan MAPETA merupakan sebuah kegiatan pengabdian layaknya KKN di Perguruan Tinggi dengan skala lebih kecil, Perserta ditempatkan pada masyarakat yang dipilihkan menjadi wali asuhnya. Peserta harus melakukan aktifitas sebagaimana yang dilakukan oleh walinya. Baik kebiasaannya, pekerjaanya maupun kultur budayanya.

 “ Kegiatan MAPETA merupakan acara mini KKN sebagai ajang “Andai Aku Menjadi “, andai aku menjadi pengumpul rongsok, andai aku menjadi pedagang asongan, andai aku menjadi petani, andai aku menjadi pejabat dan lainnya mengikuti kegiatan wali asuhnya,” jelas Tri Abadi Khair .

Dia juga menggambarkan bahwa peserta MAPETA diikuti oleh siswa kelas XII dengan patner singgahnya diwali asuh secara acak oleh panitia. Semua peserta diharuskan membuat video sebagai karyanya dan akan di tampilkan di link youtube MAM Limpung.

“Kegiatan ini disusun atas berbagai macam kegiatan positif meliputi aktivitas harian dengan wali asuh, outbond di pantai wilayah Batang, dan bakti sosial di lingkungan Desa Rejosari Barat,” tambahnya.

Diakhir kegiatan dipilih peserta yang terbaik dengan criteria penilaian yang banyak, dan tahun ini sebagai peserta terbaik yaitu Nerissa (XII IPS dan Putri Rahma (XII MIPA) dengan wali asuh Bapak Ari dan Ibu Uji.

“ Saya senang sekali dengan keluarga bapak Ari dan Ibu Uji, pernah kami diminta ke sawah untuk memberi pupuk organik tanamannya dan kami juga pernah diminta untuk panen sayur bayam, alhamdulillah saya betah tinggal dengan mereka,” tutur Nerissa mengungkapkan pengalamannya.  (Nur Hidayah / Zy_humas/rf)