Guru RA/BA Cetak Generasi Hebat

Klaten – Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klaten Anif Solikhin  menegaskan, bahwa menjadi guru/pengajar bukanlah pekerjaan mudah. “Guru merupakan pekerjaan mulia yang dapat mencetak generasi hebat,” ucap Anif. IGRA merupakan tenaga pendidik yang terdiri dari orang hebat dikarenakan mereka mengajar dengan penuh dedikasi dan kompetensi. Sementara mereka dituntut dan memiliki tanggung jawab berat mencerdaskan generasi bangsa dalam tugas yang sangat mulia.

“Saya mengapresiasi, Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) karena memiliki dedikasi yang tinggi meskipun kesejahteraan yang diterima kurang mencukupi. Semoga ini menjadi inspirasi bagi tenaga pengajar lainnya di Klaten,” ujarnya pada saat membuka Seminar Sehari Bersama Bunda Cinta dengan tema “Komitmen Guru RA/BA Mendukung Terwujudnya Generasi Hebat” yang diikuti oleh guru RA/BA sebanyak 350 orang yang bertempat di Gedung Al Ikhlas Kemenag Klaten, Sabtu (10/12).

Ia mengatakan, dedikasi yang diberikan oleh guru guru RA/BA ini sangatlah tinggi. “Di tengah segala keterbatasan inilah yang menjadikan IGRA menjadi insiparasi bagi tenaga pengajar hebat lainnya,” ungkapnya yang disambut tepuk tangan dari seluruh peserta.

Diharapkan dengan kegiatan seminar ini, dapat  meningkatkan kualitas Guru pada RA/BA dalam menyampaikan pendidikan dasar pada masing masing RA/BA tersebut, yang nantinya untuk mencetak generasi bangsa Indonesi lewat pendidikan, semoga kedepan menjadi generasi yang hebat.

Shinta, perempuan yang sering disebut satu-satunya orang yang dikenal sebagai Bunda Cinta dari Yogjakarta, sebagai narasumber menyampaikan sumberdaya yang terbesar di Indonesia adalah bukan sumberdaya alam tetapi sumberdaya manusia, maka dari itu sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberikan yang bermanfaat bagi orang lain.

Guru RA/BA punya tugas yang  sangat berat,  karena pendidikan di RA/BA adalah sebagai pendidikan dasar atau sebagai pondasi dalam melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Disamping itu Guru RA/BA dengan tugas yang diembannya sangat berat, namun gajinya mungkin tidak sesuai dengan tugasnya honor/kesejahteraanya,  mungkin paling rendah kalau dibandingkan dengan guru diatasnya. “Mudah-mudahan pemerintah memikirkan nasib para Guru RA/BA,” kata Shinta. (AgusJun/gt)