Salatiga (Humas) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menghadiri sekaligus menyatakan dukungan penuh terhadap International Symposium for Peace, Integrating and Responsive on Ecology yang diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Kamis (16/4/2026).
Kegiatan berskala internasional ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI dengan UKSW. Simposium tersebut mengangkat tema penting terkait integrasi nilai-nilai perdamaian dengan kesadaran ekologis dalam kehidupan berbangsa dan beragama.
Dalam kesempatan tersebut, Kakanwil Kemenag Jateng menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari implementasi kerukunan umat beragama. Ia menekankan bahwa hubungan harmonis tidak hanya dibangun antarmanusia, tetapi juga dengan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan.

“Kerukunan tidak hanya bicara tentang relasi antarmanusia, tetapi juga bagaimana kita membangun hubungan yang harmonis dengan alam semesta. International Symposium ini menjadi ruang dialog penting untuk merumuskan langkah responsif dalam menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan perdamaian dunia,” ujar Kakanwil.
Lebih lanjut, Kakanwil menyatakan bahwa pihaknya siap mengamplifikasi semangat dan hasil simposium ini hingga ke tingkat daerah, kabupaten/kota, bahkan kecamatan. Menurutnya, isu ekologi merupakan “bahasa universal” yang mampu menyatukan seluruh elemen umat lintas agama tanpa sekat.
“Kami menyambut baik dan siap mengamplifikasi hasil simposium ini. Menjaga alam adalah ibadah bersama. Kami mendorong setiap rumah ibadah dan komunitas agama untuk mulai mengarusutamakan nilai-nilai eco-theology atau teologi ramah lingkungan dalam dakwah dan pembinaan umat,” tegasnya di sela-sela kegiatan.
Kemenag Jateng juga memandang bahwa sinergi antara PKUB Kemenag RI dan kalangan akademisi UKSW mampu melahirkan gagasan-gagasan solutif yang aplikatif. Simposium ini dinilai memberikan dimensi baru dalam moderasi beragama, yang tidak hanya berfokus pada kerukunan sosial, tetapi juga pada tanggung jawab bersama dalam menjaga bumi.
Kehadiran Kakanwil dan para tokoh agama FKUB di UKSW Salatiga menjadi bukti konkret bahwa kesadaran akan krisis ekologi telah menjadi pemersatu baru. Diskusi yang terbangun diharapkan tidak berhenti pada forum ilmiah, melainkan berlanjut menjadi gerakan sosial yang konkret dan membumi.
Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, Jawa Tengah diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai laboratorium kerukunan yang responsif terhadap isu-isu global, termasuk krisis lingkungan, demi terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan.










