Mendongeng, media efektif membentuk kepribadian anak

Cilacap – Sebanyak 330 guru raudlatul athfal (RA) se-Kabupaten Cilacap, Kamis (30/4) di Aula Graha Darussalam Cilacap, dilatih teknik, metode dan trik mendongeng secara tepat dan efektif sesuai tujuan kurikulum pendidikan RA.

Ketua ikatan guru raudlatul athfal Kab. Cilacap, Nur Khasanah mengatakan, bahwa tujuan pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan profesionalitas guru RA dalam membentuk karakter siswa raudlatul athfal secara efektif dan efisien untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang handal, berkepribadian luhur dan taat beragama pada jenjang pendidikan selanjutnya. Disamping memperkuat ikatan silaturahmi antar guru RA, juga menjalin silaturahmi dengan instansi lain.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, Mughni Labib dalam sambutannya menegaskan, bahwa sedini mungkin anak-anak harus diperkenalkan dengan konsep Islam yang rahmatan lil ‘alamin, diantaranya melalui mendongeng sebagai salah satu metode yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang beragama Islam.

Lebih lanjut, Mughni Labib mengenalkan empat olah dalam membentuk watak dan kepribadian anak, yakni olah hati sebagai proses mencerdaskan spiritual anak agar hidupnya bisa bermakna. Olah pikir untuk mencerdaskan intelektualnya, sehingga anak mampu berpikir positif terhadap segala sesuatu, olah rasa mengarahkan anak memiliki nilai estetika atau keindahan dan cinta kedamaian sebagai sesuatu yang indah dalam hidupnya, serta olah raga untuk menciptakan kebugaran fisik, sehingga mempunyai semangat dalam menggapai harapan hidupnya.

Seni bercerita

Hadir sebagai narasumber adalah Mulyadi Yulianto (Kak Mung) Trainer Motivasi, Pendidikan dan Parenting lembaga Bee white Management Jakarta. Para peserta terlebih dahulu diperkenalkan macam-macam dongeng, tujuan, manfaat, bahan, metode dan keefektifannya untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan dalam benak anak-anak.

Kak Mung memperagakan berbagai jenis dongeng denan metode atau teknik-teknik yang bervariasi, hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan respon anak terhadap dongeng yang diberikan. Kemudian, para peserta supaya mempraktekkan di depan para peserta yang berperan seolah-olah sebagai anak-anak. Para peserta tampak antusias dan dengan cepat menguasai teknik maupun metode yang diberikan.

Mulyadi Yulianto juga mengingatkan seluruh peserta bahwa kegiatan bercerita merupakan teknik yang amat bernilai untuk menyampaikan informasi atau instruksi dan memiliki banyak fungsi, yang pertama sebagai media efektif untuk mengajarkan apapun, karenanya guru harus mempertimbangkan dengan seksama pilihan cerita. Kedua, melatih daya imajinasi dan potensi kreatif anak-anak, selanjutnya melatih emosi/perasaan untuk melahirkan sikap kritis dan kepekaan sosial, kemudian menawarkan kesempatan anak untuk menginterpretasikan dengan mengenali kehidupan. Dongeng juga berfungsi sebagai media komunikasi antara guru atau orang tua dengan anak, meningkatkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah dan bersifat menghibur sebagai relaksasi jiwa dan raga. (Budiono)