Mengenal Dunia Jurnalistik di Madrasah

Semarang – Budaya semangat menulis terhadap generasi muda harus ditumbuhkan di kalangan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Siswa madrasah sebagai anak bangsa harus kreatif, cerdas dan mampu bersaing agar tidak kurang update (kudet). Dilandasi oleh pemikiran inilah dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan kompetensi siswa madrasah terhadap dunia jurnalistik, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Semarang mengadakan pelatihan jurnalistik di Aula Madrasah, Jum’at (17/03). Acara yang digelar bekerja sama dengan Tim PPL dari UIN Walisongo Semarang ini berlangsung lancar, diikuti 40 peserta siswa-siswi pilihan dari kelas VII hingga kelas IX.

Menghadirkan Sabiq Kamalul Haq, senior dari Lembaga Pers Mahasiswa EDUKASI UIN Walisongo Semarang yang memaparkan tentang mengenal dunia jurnalistik dan Achmad Ansoriyadi guru yang berkompeten dalam dunia tulis menulis yang membeberkan tentang Teknik Menulis yang Baik dan Benar.

Ketika dimintai keterangan Kepala MTsN 2 Kota Semarang Junaidi menuturkan bahwa menulis merupakan suatu kebutuhan yang sangat vital dalam dunia pendidikan. “Kita tidak akan bisa membaca jika tidak ada sesuatu yang ditulis, begitu pula sebaliknya, kita tidak akan bisa menulis jika tidak ada sesuatu yang dibaca,” ungkap Junaidi.

Melalui pelatihan jurnalistik ini, Junaidi menekankan pentingnya para siswa diberikan bekal pengetahuan dan pemahaman agar dapat mengembangkan bakat menulis yang masih terpendam yang nantinya akan mampu menghasilkan karya tulis yang layak dikonsumsi oleh publik. “Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini, terbukti dari aktifnya siswa-siswi dengan melontarkan berbagai pertanyaan kepada narasumber,” ujar Junaidi.

Pada pelatihan tersebut peserta juga saling berkompetisi menunjukkan bakat menulisnya dalam setiap season materi. Saat season tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang diajukan, salah satunya ditanyakan oleh siswa kelas IX, Doni Setiawan tentang bagaimana cara kita menemukan ide dalam menulis suatu karangan. Menjawab pertanyaan tersebut Sabiq memaparkan bahwa ide itu bebas, dapat ditemukan dimana saja dan kapan saja. “Ide dapat dimulai dari hal remeh atau ringan yang kita temui setiap hari. Yang terpenting adalah fokuskan ide pada satu pokok permasalahan agar mudah dalam menulis,” jelas Sabiq. (Mas Guru-ch/gt)