Semarang (Humas) — Kepala Biro SDM Kementerian Agama RI, Muhammad Zain hadir di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan Pembinaan dan Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) pada Rabu (6/5/2026), di Auditorium Majeng. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Kantor Kemenag kabupaten/kota, para Kepala Bidang, Pembimas, ASDMA se-Jawa Tengah, KKMMA, KKMTs, KKMI, Pokjawas Madrasah, APRI, IPARI, Pokjana, Pokja Humas, serta jajaran terkait.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah dalam sambutannya memaparkan kondisi SDM di lingkungan Kemenag Jateng yang saat ini berjumlah 33.117 pegawai, tersebar di 35 kabupaten/kota. Data tersebut mencakup berbagai klasifikasi, mulai dari tingkat pendidikan hingga usia, yang menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pengelolaan SDM.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Biro SDM Kementerian Agama atas dedikasinya dalam mengelola sekitar 361 ribu pegawai Kemenag di seluruh Indonesia.
Kakanwil berharap kegiatan ini mampu memberikan pencerahan dan motivasi bagi seluruh jajaran, baik di tingkat kanwil, madrasah, maupun Kankemenag kabupaten/kota. Ia menyoroti tantangan distribusi pegawai yang belum merata akibat dinamika regulasi, sehingga terjadi penumpukan di beberapa unit kerja.

“Kami terus melakukan penataan pegawai. Harapannya, melalui pembinaan ini dapat ditemukan solusi agar distribusi lebih seimbang dan kinerja organisasi semakin optimal,” tambahnya.
Kepala Biro SDM Kementerian Agama, Muhammad Zain, menegaskan bahwa ASN saat ini berada dalam era turbulensi yang penuh dinamika dan perubahan cepat. Menurutnya, ASN harus terbuka terhadap kritik serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).
“Kita hidup di era post-trust, di mana persepsi seringkali lebih dominan daripada fakta. Karena itu, peran kehumasan sangat penting. Jika kita tidak hadir di media sosial, publik bisa menilai kita tidak bekerja. Maka, diperlukan personal branding yang kuat berbasis kinerja nyata,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sistem yang buruk dapat menjatuhkan orang baik. Oleh karena itu, ASN tidak cukup hanya bekerja dengan baik, tetapi juga harus berkontribusi dalam membangun sistem kerja yang sehat dan profesional. Pemanfaatan AI, lanjutnya, penting untuk mendukung kecepatan kerja, namun tidak boleh menggantikan nalar dan konstruksi berpikir manusia.
Muhammad Zain juga mengapresiasi pengelolaan sistem kepegawaian melalui SIMPEG yang dinilai unggul secara nasional, bahkan menjadi percontohan dalam sistem penggajian.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Kementerian Agama tengah mengembangkan Manajemen Talenta berbasis eviden, yang menempatkan pegawai berdasarkan skill, kompetensi, dan integritas, bukan koneksi.
“Ke depan, setiap ASN harus memiliki portofolio. Kita akan berlomba dalam pengembangan diri melalui diklat, pelatihan, dan seminar. Namun perlu diingat, kompetensi tanpa integritas tidaklah cukup,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya nilai kejujuran yang ditanamkan sejak dini serta mengajak seluruh pejabat untuk meninggalkan legacy yang baik dalam setiap amanah jabatan, sekaligus memastikan tidak ada praktik jual beli jabatan.
Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan indeks reformasi birokrasi di Kementerian Agama melalui penguatan manajemen talenta yang profesional dan berintegritas.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi motivasi oleh motivator Nanang Qosim Yusuf, yang memberikan penguatan semangat dan perspektif kepemimpinan kepada seluruh peserta dalam menghadapi tantangan organisasi di era modern.











