Tangkal Radikalisme, Gelar Apel Kebhinnekaan Cinta Damai

Rembang – Sebagai bangsa yang bersifat multikulturalisme, multiagama, dan multietnis, masyarakat Indonesia diharapkan mampu memegang teguh nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Menjaga keutuhan bangsa dan negara, serta menolak berbagai hal yang dapat mengancam integrasi bangsa, antara lain radikalisme dan terorisme.

Guna menanamkan dan memperkuat nilai-nilai tersebut, Pemerintah Kabupaten Rembang menggandeng Forkominda, Kementerian Agama, FKUB, Generasi Muda FKUB, organisasi pemuda keagamaan, serta ratusan PNS dan pelajar menggelar apel Kebhinnekaan Cinta Damai, Kamis (17/11) di alun-alun Rembang.

Apel yang melibatkan ribuan peserta tersebut menghadirkan inspektur apel, yaitu Bupati Rembang yang diwakili oleh Kapolres Rembang, AKBP Sugiarto. Dalam sambutannya, Sugiarto menyampaikan, akhir-akhir ini mulai banyak terjadi gangguan yang mengancam integrasi bangsa.

“Persatuan dan kesatuan NKRI adalah amanah dari pahlawan bangsa. Kedamaian merupakan cita-cita bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 45. Namun di era reformasi ini, nilai-nilai luhur tersebut sepertinya mulai pudar dari jati diri bangsa karena mulai suburnya sikap radikalisme oleh kelompok-kelompok tertentu,” tandas Sugiarto.

Hal tersebut ditandai dengan kemunculan kelompok garis keras yang mengatasnamakan agama. “Syariat agama yang sejatinya mengajarkan tentang kedamaian, sopan santun  dan toleransi umat beragama, oleh sebagian sekelompok ditafsirkan sebagai landasan penegakan ajaran agama dengan jalan pemaksaan dan kekerasan. Fenomena tersebut tentunya membawa dampak sensitif bagi masalah agama. Sehingga sering dijadikan alat pemicu kerusuhan dan konflik sosial yang mengancam keutuhan bangsa dan menghambat pembangunan,” paparnya lanjut.

Menurut Sugiharto, bhinneka tunggal ika merupakan semboyan yang harus dipertahankan. “Memang tidak dapat dipungkiri bahwa keanekaragaman yang ada dapat menimbulkan konflik, namun juga merupakan rahmat dari Tuhan. Walau Indonesia terdiri dari banyak pulau, suku, ras, dan agama, namun kita harus saling mernghargai demi menjaga kesatuan NKRI. Perbedaan pasti ada, namun jika dilihat secara positif, maka akan tercipta masyarakat yang harmonis. Hindarilah sifat mau menang sendiri, dan tanamkanlah jiwa nasionalisme dalam diri,” urai Sugiarto lanjut.

Sementara Deklarasi Kebhinnekaan cinta damai dibacakan oleh Ketua Gema FKUB, Deni. Deklarasi tersebut terdiri atas lima poin. Adapun inti deklarasi yaitu komitmen masyarakat Rembang untuk meneruskan cita-cita pahlawan dengan semangat kebhinnekaan, menjaga kerukunan umat beragama dan selalu berupaya menciptakan suasana kondusif di Rembang, menjaga keutuhan dan keamanan NKRI berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Usai apel, seluruh peserta dari lintas agama bersama-sama menandatangani deklarasi kebhinnekaan cinta damai.— (SS/gt)