Lima Kebajikan Universal di Vihara

Bāhusaccañca sippañca,        Berpengetahuan luas dan berketerampilan

Vinayo ca susikkhito,              Terlatih baik dalam tata susila

Subhāsitā ca  vācā,             Selalu bertutur kata dengan benar

Etaṁ maṅgalamuttamaṁ.       Itulah berkah utama

(Manggala Sutta)

Terdapat 5 hal baik yang wajib dilakukan oleh umat Buddha ketika di Vihara. Lima hal  merupakan bentuk latihan serta penghormatan umat Buddha terhadap rumah ibadahnya yang didalamnya memiliki fungsi untuk peningkatan saddha (keyakinan) terhadap Triratna (Buddha, Dhamma, dan Sangha), serta pengembangan kebijaksanaan (paññā). Lima kebajikan tersebut dapat disingkat UG5 atau Universal of Goodness 5.

Lima Kebajikan Universal itu terdiri dari :

1. Cleanlines (Kebersihan)

2. Tidiness (Kerapian)

3. Politeness (Kesopanan)

4. Punctuality (Ketepatan Waktu)

5. Meditation (Meditasi)

  1. Kebersihan;

Lingkungan vihara, jasmani, dan batin yang bersih akan sangat mendukung dalam ketenangan untuk melatih pengembangan kebijaksanaan dan keyakinan umat Buddha. Batin yang bersih adalah batin yang terbebas dari tiga akar kejahatan, yakni keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan atau kegelapan batin (moha). Batin yang bersih dapat tercermin dari ucapan serta perilaku yang baik. Di Vihara selayaknya kita mengembangkan tiga kondisi batin yang bersih ini, yang kemudian didukung dengan tempat (vihara) yang bersih. Yakni dengan memungut sampah apabila terlihat berserakan, menyimpan sampah anda sendiri dan membuangnya pada tempat sampah. Membersihkan debu di lantai, di altar, di kaca atau dinding, yang jika tidak dibersihkan  akan mengganggu konsentrasi anda ketika melakukan puja di hadapan Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Lingkungan yang bersih dan batin yang bersih akan membuat anda dan umat lainnya merasa nyaman dan betah berada di vihara. Selain itu, badan atau jasmani yang bersih juga akan mendukung kenyamanan dalam melakukan kebajikan di vihara, demikian juga akan menjaga umat lain dari rasa yang tidak nyaman karena ketidakbersihan dari jasmani kita. Demikianlah latihan kebajikan pertama seyogyanya dilakukan.

  • Kerapian

Tidak hanya jasmani yang bersih, tetapi kerapian dalam kita mengenakan busana juga akan mempengaruhi hubungan kita dengan umat lain di vihara. Kita bisa belajar dari pepatah Jawa, “Ajining rogo soko busono” artinya bahwa dengan berpakaian yang rapi, bersih, dan sopan selain kita menghormati tempat ibadah, menghormati orang lain, juga menghormati diri sendiri. Selain itu kerapian perlengkapan di vihara, baik altar maupun alat-alat puja yang lain atau sarana prasarana di vihara juga merupakan tanggung jawab kita ketika di vihara. Meletakkan alas kaki pada tempatnya, ,menyusun dengan baik alas duduk, dan mengatur meja altar sebagaimana mestinya seharusnya dilakukan oleh umat Buddha ketika di vihara. Kerapian ini tentu akan mendukung kita dalam berkonsentrasi melaksanakan puja bhakti di vihara.

  • Kesopanan

Busana yang sopan, juga harus didukung oleh sikap atau perilaku yang sopan pula. Kita harus dapat menempatkan diri bagaimana berperilaku serta berucap yang baik di Vihara, baik saat melakukan puja bhakti maupun bersapa dengan sesama umat, atau dengan rohaniwan. Kembali belajar dari pepatah Jawa, “Ajining diri soko lathi” bahwa dari ucapan lah kita dapat dihargai oleh orang lain. Hindari bergosip maupun berbicara yang tidak benar ketika di vihara, berlatihkan berbicara hal-hal yang bermanfaat. Buddha juga selalu mengajarkan bagaimana kita harus selalu menjaga ucapan dan perbuatan kita, sehingga tidak menyakiti orang lain. Buddha menyebutkan bagaimana ciri dari perbuatan yang baik.

“Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan tidak membuat seseorang menyesal, maka perbuatan itu adalah baik; Orang itu akan menerima buah perbuatannya dengan hati yang gembira dan Bahagia”

(Dhammapada; 68)

Kesopanan harus ditanamkan pada diri masing-masing umat Buddha, sehingga terjaga keharmonisan di dalam rumah ibadah (vihara).

  • Ketepatan Waktu

Disiplin diri yang keempat adalah ketepatan waktu. Yakni selalu konsisten terhadap kesepakatan bersama saat menentukan waktu pelaksanaan kegiatan di vihara. Hal ini tentunya akan menjadi pembiasaan yang baik bagi semua umat, sehingga dapat menjadi contoh bagi generasi muda.

  • Meditasi

Meditasi merupakan salah satu rangkaian kebajikan di vihara. Meditasi adalah Latihan pengendalian diri baik pikiran, ucapan, maupun perilaku badan jasmani, yang harus didukung oleh keempat kebajikan yang lain. Dengan kebersihan, kerapian, kesopanan, dan kedisiplinan waktu, maka meditasi akan dapat terus dilatih, sehingga tercapai tujuan yang diharapkan, yakni hilangnya kekotoran batin, dan tercapainya kebijaksanaan (paññā).

Inilah 5 kebajikan yang harusnya ditanamkan pada semua umat, yang akan mendukung pengembangan kebijaksanaan batin serta keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. (jum/at/Sua)