Semarang (Humas) – Spiritualitas bukan sekadar urusan personal di atas sajadah, melainkan motor penggerak utama dalam profesionalisme kerja. Hal tersebut menjadi inti arahan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Kabid Urais), Ahmad Farkhan, saat memimpin Apel Pagi ASN di halaman Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Senin (13/4/2026).
Dalam bimbingannya, Ahmad Farkhan menyoroti fenomena “krisis spiritualitas” yang kerap ditandai dengan munculnya rasa hampa dan kosong di tengah rutinitas. Ia mengingatkan bahwa kondisi batin seseorang berbanding lurus dengan kualitas pengabdiannya di kantor.
“Kita harus waspada jika saat berada di tempat ibadah saja hati terasa hampa, karena hal itu merupakan tanda spiritualitas sedang mengalami krisis. Jika di rumah Tuhan saja kita merasa kosong, maka kehampaan serupa sangat mungkin merembet ke lingkungan kerja dan mengganggu kinerja kita sebagai pelayan masyarakat,” tuturnya.
Sebagai solusi praktis, beliau mengajak para pegawai untuk membangkitkan kembali energi spiritual melalui konsistensi dalam berbuat baik. Kebajikan kecil yang dilakukan secara tulus dipercaya mampu menghapus kejenuhan dan kehampaan di meja kerja.
“Obat paling mujarab adalah dengan terus berbuat baik. Tanyakan pada diri sendiri, hari ini saya sudah berbuat baik apa? Mulailah dari hal sederhana seperti tersenyum kepada rekan kerja atau siapapun yang dijumpai. Kebiasaan berbagi energi positif ini akan menghapus rasa hampa dan secara otomatis meningkatkan semangat kita dalam pengabdian kepada umat,” tambahnya.
Mengakhiri bimbingannya, Ahmad Farkhan mengingatkan agar ASN tidak terjebak pada ambisi duniawi semata yang tidak akan pernah merasa cukup. “Tujuan kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Jika setiap proses pengabdian di kantor didasari pada nilai spiritualitas ini, maka kinerja kita akan menjadi lebih bermakna dan penuh berkah,” pungkasnya.









