You Pray for Me, I Pray for You



Semarang (Humas) – Dalam meningkatkan nilai kesadaran kaum muda dalam menjadi agen moderasi Bergama, Kanwil Kemenag Prov. Jateng bekerjasama dengan media swasta IMTV Jawa Tengah menggelar Talk Show yang mengusung tema Inspirasi Moderasi Beragama yang disiarkan secara langsung melalui IMTV Jateng dan Youtube Kanwil Kemenag Prov. Jateng pada Kamis, (11/11/2021).

Untuk tercapainya tujuan membuat kaum muda sebagai agen moderasi beragama, dalam kegiatan tersebut mengundang 4 narasumber yang sudah piawai membahas moderasi bergama, yakni Kabag TU Kanwil Kemenag Prov. Jateng, Fajar Adhy Nugroho, Ketua PW GP Ansor Jateng, Gus Sholah, Wakil Ketua FKUB Jateng, Iman Fadhilah, dan Koordinator Pelita, Setyawan Budi Wahyono.

Dalam acara teresebut Gus Sholah yang berperan menjadi narasumber yang memulai sesinya dengan mengungkapkan kesedihannya karena ada berbagai oknum yang  mengatasnamakan Agama untuk melakukan kekerasan.

“Moderasi Agama adalah salah satu jalan yang wajib ditempuh apabila Agama telah menjadi justifikasi seseorang untuk menghakimi bahkan menyerang orang lain,” ujar Gus Sholah.

Gus Sholah menjelaskan bahwa Indonesia ini adalah Bangsa yang majemuk. Indonesia sendiri memang sebuah negara yang berbeda dengan Uni Eropa. Nergara-negara di Uni Eropa terdiri satu Bangsa yang menjadi banyak Negara. Namun di Indonesia terdapat berbagai latar belakang dan budaya yang berbeda namun dapat Bersatu menjadi satu kesatuan Republik Indonesia.

“Pulau kita saja ada 17.000 lebih dan kita juga memiliki ribuan Bahasa. Jika kita tidak bisa bersama hanya karena perbedaan, maka kita akan hancur berkeping keping,” pungkas Gus Sholah.

Ketua PW GP Ansor Jateng ini menjelaskan 4 indikator penting didalam penilaian moderasi beragama, yakni;

1.      Toleransi
Disini Gus Sholah mengajak kaum muda merenenung dengan memirkan sejauh mana sebenarnya kita mempunyai  sifat toleran terhadap keyakinan orang lain?
 
2.      Komitmen anti kekerasan
Komitmen anti kekerasan adalah sebuah sikap diamana kita boleh meyakini apapun yang kita yakini bahkan jika ingin fanatic itu sah-sah saja, namun kita harus  near kekerasan dalam menjalankan sebuah keyakinan.
 
3.      Komitmen kebangsaan
Disini beliau Kembali mengajak audience untuk merenungkan apakah kita punya komitmen kepada Bangsa Indonesia? Keberphikaan kita kepada nkri itu bagaimana? Dan disini beliau mempertegas kepada kaum muda untuk tidak boleh sedikitpun kita ragu akan NKRI.
 
4.      Akomodatif
Terkahir beliau menjelaskan bahwa akomodatif adalah bagaimana kita sebagai umat Bergama punya responsi terhadap kebudayaan local. Beliau menceritakan bahkan Islam sendiri sebagai keyakinan yang beliau percayai sangat kental dengan sebuah kebudayaan local, seperti walisongo dan wayangnya. Beliau mengajak untuk kaum muda selalu melestarikan kebudayaan yang sebenarnya itu memiliki makna sejalan dengan keyakinan yang dipercayai masing-masing.

Dipenghujung acara Gus Sholah bercerita tentang pengalamannya mendatangi Vatican dan bertemu dengan Paus Fransiskus. Ada berbagai hal yang beliau ceritakan, namun percakapan tersebut berfokus kepada satu titik yakni dimana Paus Fransisku berkata “You Pray for Me, I Pray for You,” ujar Paus Fransiskus kepada Gus Sholah. Hal tersebut membuat Gus Sholah semakin yakin bahwa pentingnya moderasi beragama yang saling mencitai antar sesama manusia.

(bqq)