Wujud Sikap Wasathiyah Implementasi Moderasi Beragama di AGPAII

Salatiga – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kota Salatiga menggelar webinar Moderasi Beragama bekerjasama dengan Pasca Sarjana IAIN Salatiga dalam bentuk aplikasi zoom meeting,  yang diikuti oleh peserta anggota AGPAII dari unsur GPAI TK, SD, SMP, SMA, SMK dan Dosen, Sabtu, (30/1)

Webinar Moderasi Beragama menghadirkan keynote Speaker Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga, H. Taufiqur Rahman dan narasumber dari Pascasarjana IAIN Salatiga, KH. Dr.Agus Su’adi dan KH. Muhammad Nursikin.

Menurut Ketua DPD AGPAII Kota Salatiga, H. Untoro menjelaskan, webinar moderasi beragama ini diharapkan selain bertujuan untuk sosialisasi moderasi beragama kepada GPAI juga akan menambah pengetahuan kita tentang prinsip moderasi beragama dan berbangsa sehingga akan semakin mengokohkan persatuan kita.

Dalam paparannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga, H. Taufiqur Rahman mengatakan, dia memberikan apresiasi kepada penyelenggara dengan terwujudnya kerjasama yang baik dalam penyelenggaraan webinar ini. “Moderasi beragama akan sukses jika gurunya cerdas, kreatif dan menanamkan Islam yang Rahmatan lil ala’min,” ujar H. Taufiqur Rahman.

Selanjutnya, H. Taufiqur Rahman menyebutkan, perlunya kurikulum PAI yang mengakomodir keragaman. Hal lainnya mengenai metode pembejaran yang cenderung berimbas pada cara pandang guru PAI terhadap keragaman.

“Peserta didik perlu dikenalkan dengan keragaman sebagai konsekwensi dari anugerah Allah yang harus kita rawat bersama,” tuturnya.

Menurut narasumber dari Pascasarjana IAIN Salatiga, KH. Dr. Agus Su’adi, yang mengatakan bahwa kata yang lebih tepat merepresantasikan watak Islam adalah kata ‘wasath”. Wasath artinya berada ditengah tengah. Bukan sebagai ekstrim kiri yang menjauhkan agama dari kehidupan manusia atau ekstrim kanan yang selalu mengatasnamakan agama dan merasa paling benar demi menegakkan keyakinan sebagai perintah Allah SWT, meskipun jauh dari nilai-nilai humanis. Wasath juga berarti terbaik diantara seluruh umat, bahkan sebagaimana dijelaskan di dalam Al Qur’an akan menjadi saksi bagi seluruh umat manusia.

“Allah SWT menurunkan agama Islam sebagai agama paripurna dan di desaign  oleh Allah SWT memang telah tertanam didalamnya watak wasathiyah yang berada ditengah dan toleran terhadap agama-agama dan kepercayaan lain. Sementara apabila terdapat kelompok yang radikal berarti mereka bukan Islam, harus diingatkan serta diajak kembali tentang ajaran Islam yang Rohmatan lil’alamin dengan ciri khas tawasuth dan toleran,” kata Agus Su’adi.

Sedangkan KH. Muhammad Nursikin menjelaskan, pada era 4.0 yaitu era perkembangan kecanggihan tehnologi informasi pada saat ini. Sebagai era kekacuan dan gangguan dimana terkadang orang Islam mengalami kesulitan untuk memilah informasi benar atau hoaks. Akibatnya orang Islam mudah sekali membenarkan atau menyalahkan orang lain sebelum diketahui kepastiannya. Maka kemudian sikap moderasi atau wasathiyah sangat dibutuhkan agar orang Islam tidak terjebak kedalam sikap radikal atau justru sebaliknya yaitu sikap apatis dalam beragama. Sehingga sikap moderasi akan berimplikasi secara luas, karena tentu bukan hanya untuk kepentingan pribadi atauk kelompok tetapi juga untuk kepentingan negara.(Khusnul-Fitri/Sua)