PAH Sampaikan Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Rembang – Penyuluh Agama Islam Honorer (PAH) KUA Sarang 2, Kusnaidi memaparkan tentang keutamaan bermunajat di mala Nishfu Sya’ban.  Hal itu disampaikan Kusnaidi dalam tausiahnya di majlis Ta’lim Addzikro Desa Nglojo Sarang Rembang pada Senin (14/3/2022).

Dihadiri oleh ibu-ibu dan anak-anak, Kusnaidi memberi materi tentang munajat di malam nisfu syabah dan juga memberi ijazah amalan-amalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kusnaidi menjelaskan, secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.

“Rasulullah saw Bersabda, 5 Malam yang apabila kita berdoa pada malam-malam tersebut, maka do’a tersebut tidak ditolak. Yaitu Awal Malam Bulan Rajab, Malam Nisfu Sya’ban, Malam Jum’at, Malam Idul Fitri dan Malam Idul Adha,” kata Kusnaidi kepada Jemaah.

Imam Ghazali mengistilahkan, malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). “Menurut Imam Al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban, Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karena pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ,” terangnya.

Kusnaidi menganjurkan j di malam nisfu Sya‘ban yang membaca Surat Yasin 3× kali. Kemudian juga diiringi dengan permintaan berupa keberkahan pada umur, harta, dan hajat-hajat lainnya. Permintaan ini tidak perlu dipersoalkan karena memang tidak ada masalah secara syar‘i di situ.

Yang dibaca adalah salah satu surat di dalam Al-Quran. Pihak yang diminta juga tidak lain adalah Allah SWT. Mereka juga meminta yang baik-baik untuk kemaslahatan dunia dan akhirat, baik pribadi maupun kepentingan umum. “Hal ini dijelaskan dengan detail oleh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki berikut ini bahwa tak ada larangan bagi seseorang yang mengiringi amal sholehnya dengan permintaan dan permohonan hajat agama dan dunia, Jiwa dan raga, lahir dan batin,” paparnya. – eko/iq