Semarang (Humas)– Persiapan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional XXXI terus dimatangkan. Tim Konsultan Perencana penyelenggaraan MTQ Nasional melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen pada Senin (9/3/2026) di Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Provinsi Jawa Tengah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Saiful Mujab, Kepala Bidang Penaiszawa Kanwil Kemenag Jateng, Sekretaris Daerah Kota Semarang, serta tim perencana yang memaparkan gambaran besar konsep penyelenggaraan MTQ Nasional.
Dalam paparannya, perwakilan tim perencana, Sandy, menjelaskan tahapan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional XXXI yang dijadwalkan berlangsung di Semarang pada 11–20 September 2026. Perencanaan tersebut mencakup penentuan event organizer (EO), lokasi kegiatan, waktu pelaksanaan, hingga rangkaian agenda utama maupun kegiatan pendukung selama MTQ berlangsung.
Sandy menambahkan, pihaknya menargetkan Jawa Tengah dapat menjadi tuan rumah yang baik dan ramah dibanding penyelenggaraan MTQ sebelumnya. Salah satu upaya yang disiapkan adalah sistem layanan penyambutan dan pemulangan bagi para kafilah dan tamu yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Mulai dari layanan kedatangan hingga kepulangan akan kita siapkan dengan baik, termasuk penyambutan di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Bandara Internasional Adi Soemarmo, Stasiun Tawang, dan Stasiun Poncol,” jelasnya.
Menanggapi pemaparan tersebut, Kakanwil Kemenag Jawa Tengah Saiful Mujab memberikan sejumlah masukan, terutama terkait pentingnya penegasan alur dan tata letak (layout) lokasi kegiatan agar memudahkan mobilitas peserta dan pengunjung.
Menurutnya, dalam banyak penyelenggaraan kegiatan besar sering terjadi kebingungan pengunjung saat memasuki area acara karena alur yang tidak jelas.
“Sering terjadi saat orang ingin masuk ke lokasi penyelenggaraan justru terlempar ke beberapa titik karena alurnya tidak jelas. Maka perlu ada ketegasan bersama terkait batasan dan jalur masuk. Layout-nya harus dipertegas,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan agar penyambutan MTQ Nasional tidak hanya dilakukan di lokasi utama acara, tetapi juga di beberapa titik strategis di wilayah Jawa Tengah. Bahkan, rest area di jalur masuk provinsi dapat dimanfaatkan sebagai titik penyambutan dan informasi bagi para tamu yang datang.
Hal ini dinilai penting mengingat potensi pengunjung selama pelaksanaan MTQ diperkirakan mencapai sekitar 7.000 orang per hari.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyatakan sependapat dengan masukan tersebut. Ia berharap suasana MTQ Nasional dapat dirasakan oleh masyarakat di seluruh wilayah Jawa Tengah, tidak hanya di lokasi venue utama.
Menurutnya, selain di rest area, pemerintah daerah juga dapat menyiapkan backdrop atau penanda di sejumlah titik perbatasan provinsi untuk menyambut tamu yang memasuki Jawa Tengah.
“Misalnya di perbatasan seperti Sragen, Rembang, Cilacap, Brebes, maupun perbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jadi orang yang masuk Jawa Tengah langsung tahu bahwa kita sedang punya hajatan besar MTQ Nasional,” kata Taj Yasin.
Ia juga menambahkan bahwa jalur tol yang melintasi wilayah Jawa Tengah dapat turut dihias dengan elemen visual MTQ sehingga atmosfer perhelatan nasional tersebut benar-benar terasa di berbagai daerah.
Dengan berbagai persiapan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional XXXI dapat berlangsung sukses sekaligus memberikan kesan mendalam bagi para peserta dan tamu yang datang dari seluruh penjuru Indonesia. (Hilman Najib)









