Semarang (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Semarang Selatan menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Gemah KUA Asri sebagai bentuk dukungan terhadap program ekoteologi yang diinisiasi Kementerian Agama Republik Indonesia. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, serta Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, laporan dari Dirjen Bimas Islam, prosesi akad nikah, penasihatan perkawinan oleh Menteri Agama, hingga penanaman pohon sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan, Jumat (5/6/2026).
Dalam laporannya, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad menegaskan bahwa Kementerian Agama terus mendorong seluruh Kantor Urusan Agama di Indonesia untuk mengembangkan lingkungan yang hijau dan nyaman.
“Kami terus melakukan berbagai macam upaya agar seluruh Kantor Urusan Agama dapat menjalankan kegiatan yang asri dan mendukung pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi meningkatnya kesadaran generasi muda untuk membangun keluarga melalui pernikahan.
“Kami sangat senang anak-anak muda kita sekarang sudah memiliki semangat untuk menikah. Nikah itu asik, nikah itu indah, nikah itu penuh barokah,” kata Abu Rokhmad.
Pada kesempatan tersebut, pasangan pengantin Mas Bryan dan Mbak Ajeng melangsungkan akad nikah yang dipimpin oleh Kepala KUA Semarang Selatan, Kiai Duta. Momen istimewa ini semakin berkesan karena disaksikan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia.
Dalam nasihat perkawinannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga mempersatukan dua keluarga besar dalam ikatan persaudaraan.
“Ananda mendapatkan sertifikat berlogo Garuda. Dalam peristiwa yang sama, juga berlangsung peristiwa adat. Hari ini bukan saja perkawinan Anda berdua, tetapi juga perkawinan agama dan adat. Dua keluarga menjadi satu kesatuan. Dalam satu menit tadi, dua keluarga besar menjadi satu saudara. Inilah indahnya perkawinan,” tutur Menteri Agama.
Menurutnya, perkawinan disebut sebagai peristiwa yang sakral karena menghalalkan hubungan atas nama Allah SWT.
“Perkawinan disebut sakral karena kita mengharamkan menjadi halal atas nama Allah,” lanjutnya.
Menteri Agama juga mengaitkan nilai-nilai keluarga dengan kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon yang dilakukan setelah akad nikah.
“Sebentar lagi Ananda akan menanam pohon. Belajarlah merawat anak dengan merawat pohon, karena pohon adalah anak kandung langit dan bumi,” ungkapnya.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan pohon sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap alam.
“Kalau kita mematahkan ranting pohon, apa bedanya dengan menjewer anak? Maka bapak kandungnya akan marah. Jangan pernah kita sembarangan memotong pohon,” pesannya.
Menutup nasihatnya, Menteri Agama memberikan pesan spiritual kepada pasangan pengantin agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam menghadapi berbagai persoalan rumah tangga.
“Selesaikanlah semua persoalan dengan wudu, lalu ambillah sajadah. Serahkanlah masalah kita kepada Allah SWT. Ananda, sajadah itu adalah kapling kecil bagian dari surga,” pungkasnya.
Kegiatan Gemah KUA Asri di KUA Semarang Selatan menjadi simbol sinergi antara nilai-nilai keagamaan, pelestarian budaya, serta kepedulian terhadap lingkungan melalui program ekoteologi yang terus digalakkan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Turut hadir dalam acara tersebut Kakanwil Kemenag Prov. Jateng, Saiful Mujab beserta jajaran Kabag TU, Para Kabid dan Pembimas. (Ben/Sa)









